KETIKA KAWAN MENJADI LAWAN
Mata ini
tak mampu memandang kebenaran yang benar, hanya hati yang sanggup
merasakan manakah yang benar dan mana yang salah. Kebenaran yang dilihat oleh
mata kadang tak sama dengan apa yang dirasakan oleh hati. Mata mampu mengelabui
setiap kejadian didepannya tapi tak ada satupun yang mampu mengelebui mata hati
kita. “
Dan itu
lah yang terjadi pada dua kawan yang menjadi lawan. Ajeng gadis biasa dari
keluarga sederhana ia memiliki sikap toleran kepada sesama, rendah hati dan
ramah. Ia memiliki seorang sahabat yang sangat ia sayangi namanya Aulia, ia
anak orang kaya keluarganya begitu memanjakan Aulia. Namun, ia tak bangga atas
kekayaan yang dimiliki orang tuanya, baginya kasih sayang orang tua lah
yang sangat berharga.
Mereka
bersahabat sejak SMP, dan sekarang mereka juga satu sekolah di SMA favorit di
salah satu kota Madiun,
Ajeng mendapat beasiswa disekolah tersebut sedangkan
Aulia adalah anak pemilik dari Yayasan sekolah tersebut. Mereka seperti kakak
adik kemana-mana selalu bareng, prestasi mereka juga selalu bersaing. Namun,
keduanya sangat sportif dan tak mempermasalahkannya. Kebersamaan mereka sampai
membuat orang-orang yang melihatnya iri, tak terkecuali Rinda anak kepala
sekolah yang sangat manja, apapun kehendaknya harus selalu dituruti.
Hingga
suatu hari ia mempunyai rencana untuk memisahkan dua sahabat ini. Ia meminta
bantuan kepada Ariel
saudara kembarnya untuk mendekati mereka berdua yaitu Aulia dan Ajeng agar
mereka mengira bahwa Ariel
menyukai mereka. Ariel mendekati satu persatu baik Aulia maupun Ajeng.
Ternyata baik Aulia maupun Ajeng
juga suka kepada Ariel.
Akhirnya Ajeng
yang mengalah biarlah Ariel
dengan Aulia toh mereka juga cocok.
Akhir-akhir
ini, Aulia jarang banget bareng sama Ajeng. Karena ia lebih sering diajak
jalan bareng sama Ariel.
Dan itu kesempatan buat Rinda untuk mengahasut keduanya (Ajeng&
Aulia). Hingga akhirnya Aulia sangat membenci Ajeng, ia beranggapan bahwa Ajeng adalah
sahabat yang hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Ia juga menuduh Ajeng bahwa
dirinya tidak suka melihat Aulia dan Randa pacaran. Karena sebenarnya ia juga
dengan Ariel.
Tuduhan demi tuduhan dihantamkan Aulia kepada Ajeng. Ajeng yang memang tidak seperti itu
adanya mencoba membela diri dan menjelaskan apa adanya kepada Aulia. Namun,
Aulia sudah buta oleh hasutan Rinda dan Randa.
Ajeng
menyesalkan sikap Aulia yang seperti itu, ia sangat menyayangkan perubahan yang
terjadi pada Aulia. “Kenapa, ada apa dengan mu Aulia?” bisik Ajeng
ditengah hujan yang sedang menemani langkah pulang sekolahnya. Beruntung hujan
turun saat itu sehingga tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya ia sedang
menangis, terluka hatinya oleh pisau yang ditancapkan oleh sahabatnya sendiri.
Aulia tak lagi memandangnya sebagai sahabat. “Ya Tuhan inikah seorang kawan yang
berubah menjadi lawan?” bisiknya lagi sambil menangis.
Mana Ajeng dan
Aulia yang dulu, yang selalu bersama kemana-mana. Yang selalu kompak dalam
segala hal. Mulai hari itu suasana sekolah tak dihiasi oleh tawa mereka. Semua
seisi sekolah merindukan akan tawa mereka. Hanya Rinda yang merasa bahagia akan
hancurnya persahabatan Ajeng
dan Aulia. Ajeng
sangat bersedih akan kejadian ini.
Hingga
suatu hari, Aulia yang berniat akan menemui Ariel dikelasnya tidak sengaja mendengar
percakapan Ariel
dan Rinda mengenai dirinya dan Ajeng.
Sontak itu membuatnya kaget, tak disangka ternyata mereka tega melakukan itu
kepadanya. Tanpa pikir panjang Aulia langsung memutuskan Ariel dan
menampar mereka berdua yang dengan sengaja merencanakan semua itu.
Aulia
berlari sambil menangis menuju kelas Ajeng, sambil menyesali sikapnya yang
telah mengorbankan persahabatannya demi laki-laki yang hanya mempermainkan dirinya
untuk memisahkannya dengan Ajeng.
Namun, sesampainya dikelas ia tidak mendapati Ajeng dibangkunya. Ia menanyakan kepada
teman sekelasnya, dan ternyata sudah 3 hari ini Ajeng tidak masuk sekolah, kabar
terakhir katanya ia masuk rumah sakit.
Serasa
disambar petir disiang bolong, hatinya menangis kenapa ia sampai tidak tahu
kalau Ajeng
masuk rumah sakit. Sakit parahkah ia hingga harus dirawat di rumah sakit.
Setahu ia, Ajeng
tidak punya penyakit apa-apa. Setelah sampainya dirumah sakit ia bertemu dengan
ibunya Ajeng,
beliau kelihatan sedih dan pasrah duduk didepan ruang ICU. Aulia semakin takut,
sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Ajeng. Tak berapa lama dokter keluar
dari ruangan ICU, ia berkata “ibu, yang tabah serta jangan henti2nya mendoakan Ajeng, kita
hanya bisa menunggu keajaiban dari-Nya. Refleks ibunya Ajeng semakin keras nangisnya.
Tubuhku, serasa lemas jantungku berdetak kencang. Ya Tuhan, sebenarnya apa yang
terjadi dengan Ajeng.
Maafkan aku Ajeng,
maafin semua kejadian kemarin, bisik Aulia dalam hati sambil terus berjatuhan
air mata dipipinya. Setelah cukup tenang, ibunya Ajeng cerita bahwa sebenarnya Ajeng
mengidap sakit Leukimia sejak 2 tahun terakhir ini. Ia menyembunyikan
penyakitnya dari orang2 yang ia sayangi, termasuk ibu dan sahabatnya.
Lagi2
petir itu menyambar tepat dihatinya Aulia, kabar ini membuatnya semakin merasa
bersalah kepada Ajeng.
Sebelum dirawat dirumah sakit Ajeng
menitipkan surat kepada ibunya untuk diberikan kepada Aulia. Ajeng juga
bercerita kepada ibunya tentang selisih antara keduanya, tapi Ajeng sama
sekali tidak pernah dendam kepada sahabatnya itu, ia justru sangat bersyukur
memiliki seorang sahabat seperti Aulia.
Aulia
masuk keruangan Ajeng
dirawat, setelah mengungkapkan semuanya dan meminta maaf kepada Ajeng, tak
lama Ajeng
siuman dan senyum kepada Aulia sambil berkata “aku telah memaafkanmu jauh
sebelum kamu mengetahui tentang rencana mereka”. Tak lama kemudian Ajeng
kembali meutup mata untuk selama2nya, air mata Aulia membanjiri ruangan sambil
memeluk sahabatnya ia berbisik kau kawan bukan lawan bagiku. Terima kasih dan
maaf atas semua perbuatan ku. Tunggu aku disana sahabatku, Ajeng.
by: Achsamal Zikry
nb: mohon hargai penulis






0 komentar:
Posting Komentar